Ukuran truk di Indonesia bervariasi menurut merek dan karoseri, tetapi pasar memakai kelas yang cukup baku: pick-up dan blind van untuk muatan di bawah 1 ton, CDE untuk sekitar 2,5 ton, CDD untuk sekitar 5 ton, Fuso untuk sekitar 8 ton, serta tronton dan wingbox untuk sekitar 15 ton. Panduan ini merangkum ukuran bak, volume, payload, dan JBB setiap kelas, lalu menunjukkan cara memilih truk berdasarkan volume dan berat muatan Anda.

Tabel ukuran truk Indonesia

Angka berikut adalah nilai umum dari brosur karoseri dan tarif transporter. Angka ini hanya titik awal. Untuk perencanaan resmi, ganti dengan angka pada buku KIR dan STNK kendaraan yang akan dipakai, karena panjang bak, berat kosong, dan JBB bisa berbeda antar-unit.

Jenis truk Ukuran bak P × L × T (mm) Volume (m³) Payload (kg) JBB (kg) Sumbu/roda
Pick-up (bak) 2.500 × 1.600 × 1.200 4,80 1.000 2.400 2/4
Blind van 2.300 × 1.400 × 1.300 4,19 800 2.200 2/4
CDE / engkel box 3.100 × 1.700 × 1.700 8,96 2.500 5.500 2/4
CDD box 4.300 × 1.900 × 1.900 15,52 5.000 8.250 2/6
CDD bak 4.200 × 2.000 × 1.800 15,12 5.000 8.250 2/6
CDD Long box 5.600 × 2.000 × 2.000 22,40 5.500 10.000 2/6
Fuso box 5.800 × 2.350 × 2.300 31,35 8.000 16.000 2/6
Tronton box 9.000 × 2.400 × 2.400 51,84 15.000 26.000 3/10
Wingbox (tronton) 9.400 × 2.400 × 2.500 56,40 15.000 26.000 3/10
Trailer chassis 20' memuat 1 kontainer 20' (33,2 m³) 33,2 24.000 40.000 (JBKB) 5/18
Trailer chassis 40' memuat 1 kontainer 40' (67,7 m³) 67,7 26.000 42.000 (JBKB) 5/18
Trailer flatbed 40 kaki lantai 12.200 × 2.450 lantai 29,89 m² 28.000 43.000 5/18

Untuk bak terbuka (pick-up, CDD bak), "tinggi" adalah tinggi muatan yang wajar, bukan batas hukum. Tinggi total kendaraan beserta muatan tetap tunduk pada batas dimensi; lihat aturan ODOL.

Mengenal setiap kelas truk

Pick-up dan blind van

Cocok untuk distribusi dalam kota, paket, dan barang ringan. Blind van tertutup sehingga lebih aman dari hujan, tetapi pintunya sempit dan volumenya hanya sekitar 4 m³.

CDE (engkel)

Truk CDE adalah truk ringan empat roda dengan bak sekitar 3,1 m. Kelas ini populer untuk antar-gudang dan pengiriman ke toko karena lincah di jalan sempit.

CDD, CDD bak, dan CDD Long

Truk CDD memakai roda ganda di belakang. CDD box sekitar 15,5 m³, sedangkan CDD Long menambah panjang bak menjadi sekitar 5,6 m dan volume 22,4 m³ tanpa kenaikan payload yang besar. Artinya CDD Long unggul untuk barang ringan tapi bervolume.

Fuso

Istilah pasar untuk truk rigid dua sumbu kelas berat (bukan hanya merek tertentu). Payload sekitar 8 ton dan bak sekitar 5,8 m membuatnya cocok untuk muatan padat seperti semen, keramik, atau minuman kemasan.

Tronton dan wingbox

Truk tiga sumbu dengan sepuluh roda. Wingbox adalah tronton dengan dinding samping yang bisa dibuka ke atas seperti sayap, sehingga palet bisa dimuat dari samping dengan forklift. Perbandingan lengkapnya ada di panduan wingbox dan trailer kontainer.

Trailer

Kepala truk (tractor head) dengan chassis untuk kontainer 20' atau 40', atau flatbed untuk barang berat dan panjang. Kombinasi ini diatur dengan JBKB (jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan).

Memilih truk berdasarkan volume dan berat

Setiap muatan dibatasi oleh dua hal sekaligus: ruang dan berat. Muatan ringan seperti kasur, plastik, atau makanan ringan biasanya "penuh volume" lebih dulu. Muatan padat seperti semen, besi, atau kertas biasanya "penuh berat" lebih dulu, walaupun bak masih terlihat kosong.

Langkah praktisnya:

  1. Hitung total volume dengan Kalkulator CBM, lalu tambahkan cadangan 10–20% untuk celah dan kemasan.
  2. Hitung total berat kotor, termasuk palet dan bahan pengaman.
  3. Cari truk yang lolos di kedua syarat. Pencari truk melakukan ini otomatis.
  4. Periksa dimensi terpanjang: barang 5 m tidak masuk CDD box walaupun volumenya kecil.
  5. Periksa sebaran berat pada sumbu dengan Kalkulator beban sumbu.

Payload realistis juga lebih kecil dari angka katalog karena awak, bahan bakar, dan perlengkapan ikut dihitung. Rumus kasarnya: payload ≈ JBB (atau JBI, mana yang lebih rendah) − berat kosong − awak. Penjelasan detailnya ada di panduan beban sumbu dan JBB.

Contoh perhitungan

Kiriman A, barang ringan. 300 karton berukuran 500 × 400 × 300 mm (0,06 m³), berat 14 kg per karton.

  • Volume: 300 × 0,06 = 18 m³.
  • Berat: 300 × 14 = 4.200 kg, sehingga densitasnya sekitar 233 kg/m³.
  • CDD box (15,52 m³) tidak cukup. Dengan pengisian realistis 85%, kapasitas efektifnya hanya sekitar 13,2 m³.
  • CDD Long (22,4 m³, payload 5.500 kg) cukup: tingkat isi volume sekitar 80% dan berat masih di bawah payload.
  • Fuso juga muat, tetapi isi volumenya hanya sekitar 57%, sehingga biaya per m³ lebih mahal.

Kiriman B, barang padat. 160 sak semen @40 kg = 6.400 kg, volume sekitar 5 m³.

  • Volume 5 m³ muat di CDE, tetapi berat 6.400 kg jauh di atas payload CDE (2.500 kg) dan CDD (5.000 kg).
  • Fuso (payload 8.000 kg) memenuhi syarat dengan pemakaian payload 80%, walaupun isi volumenya hanya sekitar 16%.
  • Memaksakan muatan ini ke CDD berarti kelebihan muatan sekitar 1.400 kg dari angka katalog, yang termasuk pelanggaran ODOL.

Pelajaran dari kedua contoh: pilih truk berdasarkan batas yang lebih dulu tercapai, bukan hanya berdasarkan "berapa kubik".

Kesalahan umum

  • Memakai angka katalog sebagai angka resmi. Karoseri berbeda-beda. Selalu cek buku uji KIR dan ukur bak sebelum muat.
  • Mengabaikan tinggi pintu. Truk box sering punya ambang pintu belakang yang lebih rendah dari tinggi dalam bak. Palet setinggi 1,9 m bisa tersangkut di pintu CDD.
  • Mengira Fuso pasti muat lebih banyak dari CDD Long. Untuk barang ringan, perbedaan volumenya (31,35 vs 22,4 m³) penting; untuk barang padat yang menentukan adalah payload.
  • Lupa berat palet dan pengaman. Palet kayu sekitar 25 kg; 14 palet sudah menambah 350 kg.
  • Menumpuk berat di belakang. Muatan yang terlalu ke belakang membuat sumbu depan ringan dan setir tidak stabil, walaupun total berat masih aman.
  • Menganggap volume bak terbuka tanpa batas. Muatan yang menjulang di atas bak berisiko melebihi tinggi maksimum kendaraan dan rawan jatuh.

Rencanakan muatan sebelum memesan truk

Gunakan Pencari truk untuk menyaring kelas truk dari volume dan berat, lalu susun muatan secara 3D di Load Planner untuk melihat apakah karton atau palet benar-benar muat, di mana pusat beratnya, dan berapa beban tiap sumbu. Setelah itu jalankan Cek ODOL untuk memeriksa dimensi dan berat terhadap batas umum. Ingat, hasil perencanaan adalah simulasi: angka resmi tetap berasal dari buku KIR, timbangan, dan persetujuan operator truk.