Barang berbahaya (dangerous goods, DG) hanya sebagian kecil dari muatan kontainer, tetapi menyita porsi besar perhatian planner. Satu kontainer DG yang salah tempat bisa memicu kebakaran, reaksi kimia, atau penolakan di pelabuhan. Panduan ini menjelaskan konsep penempatan DG di stowage plan kapal. Panduan ini bukan pengganti IMDG Code, dan tidak memuat tabel atau daftar dari Code tersebut.

Dasar-dasar IMDG Code untuk pengirim, seperti klasifikasi, kemasan, dan label, dibahas di panduan dasar IMDG Code. Di sini kami fokus pada keputusan di kapal: di mana kontainer DG boleh berada dan seberapa jauh dari kontainer lain.

Kelas barang berbahaya dalam bahasa planner

IMDG Code membagi barang berbahaya menjadi sembilan kelas. Setiap barang diidentifikasi dengan nomor UN empat digit. Ringkasan berikut ditulis dari sudut pandang perencanaan, bukan definisi resmi:

Kelas Gambaran singkat Perhatian utama planner
1 Bahan peledak Pembatasan ketat posisi dan jumlah; sering perlu izin khusus pelabuhan
2 Gas (mudah terbakar, tidak mudah terbakar, beracun) Kebocoran gas; posisi yang berventilasi baik
3 Cairan mudah terbakar Jauh dari sumber panas dan sumber penyalaan
4 Padatan mudah terbakar, mudah menyala sendiri, atau bereaksi dengan air Panas, kelembapan, dan air pemadam
5 Oksidator dan peroksida organik Mempercepat kebakaran; sebagian perlu kontrol suhu
6 Bahan beracun dan infeksius Jauh dari bahan pangan dan ruang akomodasi
7 Bahan radioaktif Jarak dari ruang berawak; batas indeks transportasi
8 Bahan korosif Kebocoran yang merusak struktur dan muatan lain
9 Barang berbahaya lain-lain, termasuk pencemar laut tertentu dan baterai litium Beragam; baca ketentuan khusus per nomor UN

Untuk latihan, Anda bisa menjelajahi kelas DG dan pencarian nomor UN. Data resmi tetap harus diambil dari edisi IMDG Code yang berlaku.

Konsep segregasi

Segregasi adalah pemisahan barang yang dapat bereaksi berbahaya bila bercampur, misalnya oksidator dengan cairan mudah terbakar, atau asam dengan bahan tertentu. IMDG Code memakai beberapa tingkat pemisahan yang makin ketat. Dalam bahasa sederhana:

  • Tingkat paling ringan berarti kedua barang cukup dijauhkan agar tidak saling memengaruhi bila terjadi kecelakaan, tetapi masih boleh berada di ruang atau dek yang sama.
  • Tingkat berikutnya meminta jarak yang lebih besar, umumnya di palka atau kompartemen berbeda bila di bawah dek, atau dengan jarak horizontal tertentu bila di dek.
  • Tingkat yang lebih ketat meminta pemisahan oleh satu kompartemen atau palka utuh.
  • Tingkat paling ketat meminta pemisahan memanjang dengan kompartemen atau palka utuh di antaranya.

Untuk kapal kontainer, tingkat-tingkat itu diterjemahkan menjadi jarak dalam jumlah slot kontainer, ke arah memanjang dan melintang, dan dengan atau tanpa sekat di antaranya. Aturannya juga membedakan kontainer tertutup dan terbuka, serta posisi di dek atau di palka. Selain itu ada kelompok segregasi (misalnya kelompok asam atau kelompok tertentu lain) yang menambah syarat di luar kelas.

Planner tidak perlu menghafal tabelnya, tetapi harus tahu alurnya: tentukan tingkat yang diminta dari data berlisensi, terjemahkan menjadi jarak slot di kapal itu, lalu periksa setiap pasangan kontainer DG. Simulasi edukatif tersedia di alat edukasi segregasi DG; hasilnya bukan pengganti pemeriksaan resmi.

Kategori stowage: di dek atau di palka

Setiap entri di Dangerous Goods List memiliki kategori stowage. Kategori ini menyatakan apakah barang boleh di dek, di palka, atau hanya di dek, dan bisa berbeda antara kapal kargo dan kapal penumpang. Kelas 1 memiliki skema kategori sendiri. Di samping itu ada kode stowage dan handling tambahan, misalnya kewajiban terlindung dari panas atau jauh dari ruang akomodasi.

Pertimbangan praktis di kapal kontainer:

  • Dek: ventilasi alami dan akses pemeriksaan lebih baik, tetapi terpapar matahari, air laut, dan risiko kontainer jatuh di tier atas dan baris terluar.
  • Palka: terlindung dari cuaca, tetapi hanya boleh untuk kelas yang diizinkan oleh Document of Compliance (DOC) kapal untuk palka tersebut, sesuai SOLAS II-2/19. Palka berbeda bisa memiliki izin kelas yang berbeda.
  • Jarak dari akomodasi dan anjungan: sebagian DG harus dijauhkan dari ruang berawak dan sistem ventilasi udara masuk.

Reefer dan sumber panas

Sumber panas di kapal antara lain sekat ruang mesin, tangki bahan bakar yang dipanaskan, cerobong, dan tutup palka di atas ruang mesin. Barang yang wajib terlindung dari panas tidak boleh diletakkan di dekatnya, termasuk di tier atas yang menerima panas matahari langsung bila ada ketentuan itu.

Kontainer reefer relevan dalam dua cara. Pertama, mesin pendingin dan kabel listriknya adalah peralatan listrik yang bisa menjadi sumber penyalaan, sehingga posisinya perlu diperhatikan terhadap DG yang mudah terbakar. Kedua, sebagian peroksida organik (kelas 5.2) dan bahan swareaktif (kelas 4.1) diangkut di reefer dengan suhu kontrol dan suhu darurat. Kontainer seperti ini membutuhkan slot reefer yang dipantau, rencana bila listrik padam, dan akses awak kapal. Setelan suhu bisa diperiksa dengan alat reefer.

Contoh alur pemeriksaan satu bay

Contoh ilustratif di sebuah kapal feeder fiktif: tiga kontainer DG dijadwalkan ke bay yang sama.

Kontainer Kelas Pertanyaan yang diperiksa
A 3, cairan mudah terbakar Apakah DOC mengizinkan kelas 3 di palka ini? Apakah dekat sekat ruang mesin?
B 5.1, oksidator Tingkat segregasi berapa terhadap A? Berapa jarak slot yang diminta di palka atau dek?
C 8, korosif Ada kelompok segregasi khusus? Apakah posisinya di atas muatan pangan?

Bila B tidak boleh berada di palka yang sama dengan A, planner memindahkan B ke dek dengan jarak yang memenuhi syarat, atau ke palka lain. Setiap perpindahan diulang pemeriksaannya, karena kontainer DG lain di bay sebelahnya ikut terpengaruh.

Kesalahan umum di stowage plan

  • Hanya memeriksa kelas utama. Risiko subsidiari (subsidiary risk) dan kelompok segregasi juga menentukan jarak yang diminta.
  • Lupa kontainer di bay sebelah. Segregasi berlaku ke segala arah, termasuk melintasi sekat dan ke bay depan atau belakang.
  • Mengabaikan perubahan di pelabuhan transit. Kontainer DG baru yang dimuat di pelabuhan berikutnya bisa melanggar segregasi dengan kontainer yang sudah ada di kapal.
  • Data deklarasi tidak cocok. Nomor UN, kelas, dan kelompok kemasan di booking harus sama dengan Dangerous Goods Declaration dan label pada kontainer.
  • DOC tidak diperiksa. Izin palka bisa berbeda antar-kapal dalam satu layanan yang sama.

DG manifest dan data berlisensi

SOLAS Bab VII mewajibkan kapal membawa daftar khusus atau manifest barang berbahaya, atau stowage plan rinci, yang menunjukkan kelas dan posisi setiap DG. Data utamanya berasal dari Dangerous Goods Declaration pengirim: nomor UN, nama pengapalan yang benar, kelas, kelompok kemasan, jumlah, dan kontak darurat. Data DG juga dikirim ke terminal berikutnya di dalam pesan BAPLIE.

Perangkat lunak yang memeriksa segregasi otomatis harus memakai data IMDG berlisensi resmi yang masih berlaku. STOWAGE.ID Vessel Stowage tidak mendistribusikan ulang teks atau tabel IMDG Code; pemeriksaan otomatis memakai data berlisensi yang dimiliki perusahaan pengguna. STOWAGE.ID adalah alat perencanaan dan pendukung keputusan di darat. Loading computer kapal yang disetujui kelas, DOC, dan buku stabilitas tetap menjadi acuan resmi, dan penerimaan DG tetap keputusan nakhoda. Lihat juga cara kerja di halaman stowage kapal kontainer.