Kapal curah (bulk carrier) memuat puluhan ribu ton batu bara, bijih, klinker, atau biji-bijian dalam waktu singkat. Laju muat yang tinggi berarti kesalahan urutan bisa membebani lambung dalam hitungan jam. Di Indonesia, situasinya beragam: dari dermaga dengan shiploader modern, sampai pemuatan batu bara di lepas pantai Kalimantan dari tongkang dengan floating crane atau crane kapal. Panduan ini membahas cara menyusun urutan muat yang aman.

Dasar aturan: IMSBC Code, SOLAS, dan BLU Code

Muatan curah padat diatur dalam IMSBC Code. Setiap muatan memiliki jadwal (schedule) yang menjelaskan sifat, bahaya, dan syarat pengangkutannya, dan dikelompokkan secara umum menjadi:

  • Grup A: dapat mencair (liquefaction) bila kadar airnya melebihi transportable moisture limit (TML), misalnya beberapa jenis bijih nikel dan konsentrat.
  • Grup B: memiliki bahaya kimia, misalnya batu bara yang dapat melepaskan metana atau memanas sendiri. Batu bara dengan banyak partikel halus juga dapat memiliki sifat Grup A.
  • Grup C: tidak termasuk A atau B.

Pengirim wajib memberi deklarasi muatan sebelum muat, termasuk stowage factor dan, untuk Grup A, sertifikat kadar air dan TML. SOLAS mewajibkan nakhoda dan perwakilan terminal menyepakati rencana muat atau bongkar sesuai Code of Practice for the Safe Loading and Unloading of Bulk Carriers (BLU Code), dan bab XII SOLAS memuat ketentuan tambahan untuk kapal curah, termasuk loading instrument untuk kapal dengan panjang 150 m ke atas. Kapasitas volume palka bisa dihitung dengan kalkulator stowage factor.

Pour dan urutan antarpalka

Rencana muat membagi berat akhir setiap palka menjadi beberapa pour. Kapal berpindah palka setelah setiap pour, sehingga beban bertambah merata di sepanjang kapal. Contoh ilustrasi kapal curah lima palka yang memuat 50.000 t batu bara:

Pour Palka Ton Kumulatif Catatan ballast (ilustrasi)
1 P3 5.000 5.000 Mulai buang ballast tangki dasar ganda tengah
2 P1 4.500 9.500 Buang tangki depan, jaga trim ke buritan
3 P5 4.500 14.000 Buang tangki belakang
4 P2 5.500 19.500 Lanjutkan, cek sarat terhadap rencana
5 P4 5.500 25.000 Ballast palka (bila ada) sudah kosong
6 P3 5.000 30.000 Cek shear force di sekat P3
7 P1 4.000 34.000 Sisa tangki depan
8 P5 4.000 38.000 Sisa tangki belakang, sisakan untuk trim
9 P2 4.500 42.500 Baca sarat, update loading instrument
10 P4 4.500 47.000 Ballast hampir habis
11 P3, P2, P4 2.000 49.000 Trimming pour: P3 1.000, P2 dan P4 masing-masing 500
12 P1, P5 1.000 50.000 Trimming pour akhir 500 t per palka untuk trim akhir

Berat akhir: P1 9.000 t, P2 10.500 t, P3 11.000 t, P4 10.500 t, P5 9.000 t. Pola ini hanya ilustrasi; urutan yang sah adalah yang dihitung di loading instrument kapal dan disetujui nakhoda.

Deballasting bertahap

Ballast harus keluar seimbang dengan muatan masuk. Bila laju shiploader 2.000 t/jam tetapi pompa ballast hanya mampu sekitar 1.500 t/jam, rencana harus memuat jeda atau laju muat yang lebih rendah. Hal yang perlu diperhatikan:

  • Tangki yang dibuang di setiap pour sebaiknya berada di sekitar palka yang sedang dimuat, agar momen lentur tidak menumpuk.
  • Sisa ballast yang tidak bisa dipompa (stripping) diperhitungkan dalam sarat dan berat akhir.
  • Air draft terhadap shiploader dan sarat terhadap kedalaman dermaga dicek di setiap tahap.
  • Ballast tangki puncak (peak tank) sering dibuang paling akhir untuk mengatur trim.

Kekuatan memanjang di setiap tahap

Setiap tahap, bukan hanya kondisi akhir, harus memenuhi batas shear force dan bending moment untuk kondisi pelabuhan (harbour limits), yang biasanya lebih longgar dari batas laut (seagoing limits). Loading instrument yang disetujui sesuai persyaratan kelas, termasuk IACS UR L5 untuk perangkat lunak stabilitas, dipakai untuk memeriksanya. Penjelasan konsepnya ada di panduan shear force dan bending moment kapal.

Kekuatan lokal juga dibatasi: loading manual mencantumkan berat maksimum per palka dan per dua palka bersebelahan sebagai fungsi sarat.

  • Alternate hold loading: muatan berat di palka berselang (misalnya P1, P3, P5) dengan palka lain kosong. Hanya untuk kapal yang dirancang dan disetujui, misalnya dengan notasi BC-A.
  • Block loading: dua palka bersebelahan diisi dan palka di sampingnya kosong. Hanya boleh bila kondisinya tercantum di loading manual.
  • Muat multi-pelabuhan: kondisi setengah muat di antara pelabuhan juga harus disetujui.

Trimming dan sarat akhir

Trimming pour di akhir mengatur sarat dan trim akhir. Laju shiploader diturunkan, dan sarat dibaca ulang sebelum ton terakhir. Muatan juga harus diratakan (trimming) secara wajar sampai ke batas palka agar tidak bergeser dan agar permukaan muatan tidak membentuk lereng tinggi, terutama untuk muatan dengan sudut curah (angle of repose) yang kecil. Perhitungan trim dapat diperiksa dengan kalkulator draft dan trim dan panduan trim dan draft kapal.

Draft survey

Berat muatan curah umumnya ditentukan dengan draft survey sebelum dan sesudah muat. Surveyor membaca enam tanda sarat, mengukur densitas air, lalu menerapkan koreksi:

  • koreksi tanda sarat ke garis tegak (perpendicular),
  • koreksi lengkungan lambung (hog atau sag) dengan rata-rata berbobot (quarter mean),
  • koreksi trim pertama dan kedua, dan koreksi densitas,
  • pengurangan ballast, air tawar, bunker, dan konstanta kapal.

Selisih displacement bersih sebelum dan sesudah muat adalah berat muatan. Coba alurnya dengan kalkulator draft survey.

Muatan Grup A di Indonesia

Bijih nikel dan sebagian bijih lain yang dikirim antarpulau ke kawasan smelter sering ditimbun terbuka dan terkena hujan. Bagi muatan Grup A, kadar air aktual harus di bawah TML sesuai sertifikat yang masih berlaku. Mualim I dapat melakukan uji sederhana di kapal (can test) dari sampel muatan sebagai pemeriksaan tambahan; bila sampel tampak basah atau membentuk permukaan cair, hentikan pemuatan dan minta pengujian ulang. Ingat bahwa uji sederhana tidak menggantikan sertifikat laboratorium.

Kesalahan umum

  • Hanya memeriksa kondisi akhir, padahal batas paling sering terlampaui di tahap tengah.
  • Memakai laju muat nominal tanpa memperhitungkan kapasitas pompa ballast yang sebenarnya.
  • Mengubah urutan palka tanpa menghitung ulang karena shiploader atau crane berpindah lebih cepat.
  • Mengabaikan muatan yang tertahan di tongkang atau ban berjalan saat menghitung sisa muatan untuk trimming pour.

Komunikasi dengan terminal

Rencana muat ditandatangani bersama perwakilan terminal sebelum mulai. Isinya laju muat, urutan pour, titik berhenti untuk pembacaan sarat, waktu deballasting, dan cara menghentikan pemuatan dalam keadaan darurat. Setiap perubahan, misalnya pergantian palka karena kerusakan alat, dicatat dan dihitung ulang. Di pemuatan dari tongkang, laju tidak merata dan berat per tongkang perlu dicatat untuk melacak sisa muatan per palka.

Perencana di darat dapat memakai STOWAGE.ID Vessel Stowage dan halaman stowage kapal curah untuk menyiapkan draf urutan pour dan membandingkan skenario. Draf itu adalah pendukung keputusan; loading instrument kapal yang disetujui kelas dan buku stabilitas tetap menjadi acuan resmi, dan rencana akhir disetujui nakhoda dan mualim I.