Stowage plan adalah rencana yang menentukan di mana setiap kontainer ditempatkan di kapal: bay, row, dan tier, beserta berat, pelabuhan bongkar, dan status khusus seperti reefer atau barang berbahaya. Tujuannya tiga sekaligus: kapal tetap stabil dan kuat, muatan aman di laut, dan bongkar-muat di setiap pelabuhan berjalan tanpa pemindahan yang tidak perlu. Panduan ini menjelaskan siapa pembuatnya, data apa yang dibutuhkan, batasan yang harus dipenuhi, dan bedanya dengan container load plan.
Dua tingkat perencanaan muatan
Istilah "plan" dipakai di dua tingkat yang berbeda:
| Tingkat | Pertanyaan yang dijawab | Contoh dokumen | Pembuat |
|---|---|---|---|
| Kapal | Kontainer mana di slot mana? | Stowage plan, bay plan, BAPLIE | Perencana pelayaran, perencana terminal, mualim I |
| Kontainer/truk | Barang mana di posisi mana di dalam unit? | Container load plan, packing list | Pengirim, forwarder, gudang |
Kedua tingkat ini saling bergantung. Berat kontainer yang dipakai perencana kapal berasal dari VGM, dan VGM yang akurat berawal dari load plan yang benar di gudang.
Siapa yang membuat stowage plan
Pada pelayaran kontainer, alurnya biasanya seperti ini:
- Perencana pusat (central planner) pelayaran menyusun pra-rencana untuk seluruh rute: alokasi ruang per pelabuhan muat dan bongkar, slot reefer, dan area untuk barang berbahaya.
- Perencana kapal di terminal (ship planner) menyusun rencana muat rinci berdasarkan kontainer yang benar-benar tiba di lapangan, urutan kerja crane, dan posisi tumpukan di yard.
- Mualim I (chief officer) memeriksa rencana dengan loading computer kapal dan berwenang menolak atau meminta perubahan bila stabilitas, kekuatan, atau keselamatan tidak terpenuhi.
Setelah muat selesai, rencana final dikirim ke pelabuhan berikutnya, biasanya dalam format pesan BAPLIE yang distandarkan oleh SMDG.
Data masukan
Perencana tidak bisa bekerja tanpa data yang lengkap dan tepat waktu:
- Booking dan loading list: jumlah, ukuran, dan tipe kontainer per pelabuhan tujuan, termasuk kode tipe ISO seperti 22G1 atau 45G1.
- VGM: berat kotor terverifikasi setiap kontainer, wajib sebelum dimuat.
- Barang berbahaya (DG): kelas IMDG, nomor UN, dan ketentuan segregasi. Lihat dasar IMDG Code.
- Reefer: suhu setelan dan kebutuhan colokan listrik; slot reefer di kapal terbatas.
- Out of gauge: muatan yang melebihi ukuran kontainer, misalnya di flat rack, butuh ruang ekstra.
- Rotasi pelabuhan (POD): urutan pelabuhan bongkar menentukan kontainer mana yang harus berada di atas.
Batasan yang harus dipenuhi
Secara garis besar, stowage plan harus memenuhi batasan berikut. Rincian angkanya selalu mengikuti manual dan loading computer kapal masing-masing.
- Stabilitas: tinggi metasentrik (GM) harus cukup, trim dan draft sesuai, dan kemiringan dapat dikendalikan dengan ballast.
- Kekuatan memanjang: gaya geser dan momen lentur badan kapal tidak boleh melampaui batas.
- Berat tumpukan: setiap tumpukan 20' dan 40' punya batas berat dari pembuat kapal.
- Lashing: gaya pada lashing dan twistlock harus dalam batas sistem pengikatan kapal; tumpukan tinggi dengan kontainer berat di atas cepat melampaui batas ini.
- Visibilitas anjungan: tinggi tumpukan di dek tidak boleh menghalangi pandangan dari anjungan melebihi ketentuan SOLAS.
- Segregasi DG dan slot reefer: barang berbahaya dipisahkan sesuai IMDG Code; reefer hanya di slot dengan colokan.
- Overstow: kontainer untuk pelabuhan berikutnya tidak boleh tertimbun oleh kontainer untuk pelabuhan sesudahnya, karena akan memaksa bongkar-muat ulang (restow).
Loading computer dan persetujuan akhir
Loading computer adalah perangkat lunak di kapal yang memuat model kapal: tangki, ruang muat, batas kekuatan, dan kurva stabilitas yang disetujui. Perencana terminal biasanya juga memakai perangkat lunak perencanaan sendiri, tetapi angka yang menentukan adalah hasil loading computer kapal. Alur yang lazim:
- Rencana muat dari terminal atau pelayaran dikirim ke kapal sebelum operasi dimulai.
- Mualim I memasukkan atau mengimpor data tersebut, lalu memeriksa GM, trim, draft, gaya geser, momen lentur, berat tumpukan, dan gaya lashing.
- Bila ada pelanggaran, mualim I meminta perubahan: menukar posisi kontainer, menambah atau mengurangi ballast, atau menolak kontainer tertentu.
- Selama muat, perubahan di lapangan (kontainer batal, kontainer pengganti, berat berbeda) dicatat dan dihitung ulang.
- Setelah muat selesai, kondisi akhir kapal dihitung dan rencana final dikirim ke pelabuhan berikutnya.
Karena perubahan terjadi sampai menit terakhir, data berat dan tipe kontainer yang akurat dari pengirim mengurangi risiko kontainer tertinggal kapal.
Contoh perhitungan
Ilustrasi sebuah tumpukan 40' di dek kapal feeder dengan rotasi Tanjung Priok → Singapura → Port Klang. Misalkan manual kapal membatasi berat tumpukan ini 90 ton (angka ilustrasi, bukan data kapal tertentu).
| Tier | Kontainer | POD | VGM |
|---|---|---|---|
| 88 | 40' B2 | Singapura | 10 t |
| 86 | 40' B1 | Singapura | 16 t |
| 84 | 40' C2 | Port Klang | 24 t |
| 82 | 40' C1 | Port Klang | 28 t |
- Berat tumpukan: 28 + 24 + 16 + 10 = 78 ton, di bawah batas 90 ton.
- Urutan bongkar benar: kontainer Singapura di atas, sehingga tidak ada restow.
- Berat menurun ke atas: baik untuk stabilitas dan gaya lashing.
Sekarang misalkan kontainer B1 tercatat 16 ton di booking, tetapi VGM yang masuk menunjukkan 30 ton. Berat tumpukan menjadi 28 + 24 + 30 + 10 = 92 ton, melebihi batas, dan kontainer 30 ton berada di atas kontainer 24 ton. Perencana punya beberapa pilihan: memindahkan kontainer 30 ton ke tumpukan lain yang masih punya sisa batas berat, menempatkannya di bawah dek pada bay yang dibongkar di Singapura, atau menukar urutan tier bila rotasi memungkinkan. Setiap pilihan harus dicek ulang di loading computer. Contoh ini menunjukkan mengapa berat yang akurat sejak gudang sangat penting.
Kesalahan umum
- Menganggap berat booking sama dengan berat sebenarnya. Selisih berat merusak rencana yang sudah dihitung.
- Terlambat menyerahkan VGM atau data DG. Kontainer bisa tertinggal kapal.
- Mengabaikan pusat berat di dalam kontainer. Kontainer dengan muatan menumpuk di satu ujung menyulitkan penanganan crane dan lashing. Lihat pusat gravitasi dan distribusi berat.
- Menyamakan load plan dengan stowage plan. Load plan dari pengirim tidak menggantikan rencana kapal.
Stowage.id dan container load plan
Stowage.id adalah alat perencanaan muatan di dalam kontainer dan truk, bukan sistem perencanaan kapal. Load Planner membantu Anda menyusun container load plan: posisi karton dan palet, berat kotor, serta pusat berat di dalam kontainer. Data itu bisa Anda pakai untuk menyiapkan formulir VGM dan memeriksa payload kontainer. Untuk memahami posisi kontainer di kapal, lanjutkan ke panduan cara membaca bay plan dan VGM SOLAS. Semua hasil Stowage.id adalah simulasi dan tidak menggantikan penimbangan resmi, loading computer kapal, atau persetujuan mualim I dan operator terminal.