General cargo atau breakbulk adalah muatan yang dikapalkan per unit, bukan dalam kontainer dan bukan curah: karung beras, semen, pupuk, gulungan baja, pipa, kayu lapis, drum, mesin, hingga kendaraan. Kapal general cargo di Indonesia masih menjadi tulang punggung banyak rute antarpulau, terutama ke pelabuhan yang belum memiliki crane kontainer. Panduan ini membahas cara menyusun stowage plan untuk muatan semacam ini secara praktis.

Ruang muat: palka, geladak antara, dan tutup palka

Kapal general cargo klasik memiliki beberapa palka (hold) yang dibagi secara vertikal oleh geladak antara (tween deck). Ruang di bawah geladak antara disebut lower hold, dengan lantainya berupa tank top yang sekaligus menjadi atap tangki dasar ganda. Di atasnya ada tutup palka (hatch cover) yang juga bisa memuat barang di dek cuaca.

Untuk perencanaan, ada dua angka kapasitas di capacity plan:

  • Bale capacity: volume palka diukur sampai sisi dalam gading, balok, dan penegar. Angka ini dipakai untuk muatan berkemasan.
  • Grain capacity: volume sampai pelat kulit, termasuk sela gading. Angka ini dipakai untuk muatan curah yang bisa mengisi celah.

Setiap lantai juga memiliki batas beban merata (t/m²). Tank top biasanya paling kuat, geladak antara lebih lemah, dan tutup palka dek cuaca paling terbatas. Pembahasan rinci tentang kekuatan lantai ada di panduan kekuatan dek dan tank top.

Stowage factor dan broken stowage

Stowage factor (SF) adalah volume yang ditempati satu ton muatan dalam kemasannya, dalam m³/t. Broken stowage (BS) adalah persentase ruang yang hilang karena bentuk muatan, struktur palka, dan dunnage. Ruang palka yang dibutuhkan dihitung dengan:

Volume dibutuhkan = berat × SF ÷ (1 − BS)

Jenis muatan (contoh) SF indikatif (m³/t) Broken stowage indikatif
Semen dalam karung 0,9–1,0 5–10%
Beras dalam karung 1,4–1,5 5–10%
Pupuk dalam karung 1,0–1,2 5–10%
Kayu lapis dalam bundel 1,7–1,9 5–15%
Drum isi cairan 1,6–1,9 15–25%
Gulungan baja (steel coil) 0,3–0,5 30% atau lebih

Angka di tabel adalah rentang ilustrasi; SF sebenarnya bergantung pada kemasan dan harus diambil dari data pengirim atau pengukuran. Coba hitung dengan kalkulator stowage factor.

Contoh: 800 t beras karung dengan SF 1,4 m³/t dan broken stowage 10% membutuhkan 800 × 1,4 ÷ 0,9 ≈ 1.244 m³. Bila lower hold palka 2 memiliki bale capacity 1.600 m³, sisanya sekitar 356 m³ masih dapat dipakai untuk muatan ringan yang cocok, misalnya karung gula, asalkan berat totalnya masih dalam batas tank top.

Perhatikan juga apakah sebuah partai "mengisi palka sebelum mencapai berat" (muatan ringan, SF tinggi) atau "mencapai berat sebelum palka penuh" (muatan berat, SF rendah). Kombinasi muatan berat di bawah dan muatan ringan di atas sering memberi pemanfaatan ruang dan berat yang lebih baik.

Beban tank top dan tutup palka

Tekanan dari muatan berat dihitung sebagai berat dibagi luas tumpuan. Contoh: sebuah mesin 24 t bertumpu pada dua skid masing-masing 4,0 × 0,3 m, sehingga luas tumpuannya 2,4 m² dan tekanannya 10 t/m². Bila batas geladak antara pada kapal contoh ini 4 t/m², mesin tidak boleh langsung diletakkan di sana. Dengan balok dunnage atau grillage yang menyebarkan beban ke area 3,0 × 2,5 m (7,5 m²), tekanan rata-rata turun menjadi 3,2 t/m².

Penyebaran beban hanya efektif bila dunnage cukup kaku dan bertumpu di atas penumpu struktur (girder, balok lintang). Untuk muatan sangat berat, tanyakan ke kelas atau naval architect apakah perlu perhitungan beban titik. Gunakan kalkulator beban dek untuk pemeriksaan cepat.

Pemisahan dan kecocokan muatan

Satu palka general cargo sering berisi muatan untuk beberapa penerima dan pelabuhan. Pemisahan (separation) dilakukan dengan jaring, terpal, cat, tali warna, atau dunnage agar buruh di pelabuhan bongkar tidak tertukar partai. Selain itu, perencana memeriksa kecocokan muatan:

  • Basah dan kering: muatan yang mengeluarkan uap air atau cairan (misalnya drum yang mungkin bocor) jangan di atas karung semen, beras, atau tepung.
  • Bau dan kontaminasi: tepung ikan, karet mentah, atau kulit mentah dapat merusak teh, beras, dan bahan pangan lain.
  • Debu dan kotor: semen dan pupuk curah dalam karung sebaiknya dipisah dari muatan bersih.
  • Berat dan rapuh: muatan berat tidak boleh menindih muatan yang mudah penyok.
  • Barang berbahaya: ikuti pemisahan menurut IMDG Code; lihat panduan stowage barang berbahaya di kapal.

Keringat kapal (ship's sweat) dan keringat muatan (cargo sweat) juga perlu diperhatikan pada rute dari daerah dingin ke panas atau sebaliknya. Ventilasi palka dan dunnage yang memberi celah udara membantu mengurangi kerusakan karena kondensasi.

Urutan bongkar dan aksesibilitas

Prinsip dasarnya: muatan pelabuhan terakhir dimuat lebih dulu dan diletakkan paling dalam, sedangkan muatan pelabuhan pertama ditempatkan paling mudah dijangkau, misalnya di geladak antara atau di bawah lubang palka. Kesalahan urutan menyebabkan overstow: muatan harus dipindahkan sementara agar partai lain bisa dibongkar, yang memakan waktu dan biaya bongkar muat.

Hal lain yang perlu direncanakan:

  • Pembagian per palka agar beberapa gang buruh bisa bekerja serempak dan waktu sandar singkat.
  • Muatan berat di palka yang terjangkau derek atau crane kapal dengan SWL yang memadai.
  • Stabilitas di setiap pelabuhan. Setelah bongkar sebagian, KG, sarat, dan trim berubah; periksa dengan kalkulator GM dasar dan kalkulator draft dan trim.
  • Muatan opsional (optional cargo) yang pelabuhan bongkarnya belum pasti diletakkan agar bisa dibongkar di beberapa pelabuhan tanpa overstow.

Dunnage dan pengamanan

Dunnage berfungsi menyebarkan beban, memberi drainase dan ventilasi, memisahkan partai, serta menambah gesekan agar muatan tidak bergeser. Kayu dunnage untuk pelayaran internasional umumnya harus sesuai ISPM 15. Muatan yang dapat bergeser diamankan sesuai Cargo Securing Manual kapal dan prinsip CSS Code: diganjal (chocking), diikat (lashing), atau dirapatkan (tomming). Prinsip pengikatan dibahas di panduan lashing dan securing muatan.

General cargo antarpulau di Indonesia

Banyak rute antarpulau, termasuk rute bersubsidi, memuat campuran semen, beras, bahan bangunan, barang kelontong, dan kendaraan dalam satu pelayaran dengan beberapa pelabuhan singgah. Tantangan yang sering muncul:

  • Pelabuhan kecil tanpa crane darat, sehingga bergantung pada derek kapal dan kemampuan buruh.
  • Pelabuhan dengan pasang surut besar dan kedalaman terbatas, sehingga sarat kedatangan harus dijaga.
  • Data berat yang kurang akurat dari pengirim; penimbangan sampel membantu memeriksa berat partai.
  • Muatan di dek cuaca yang harus dilindungi dari hujan dan ombak serta diikat dengan baik.

Untuk rencana yang rapi, susun daftar muatan per pelabuhan, hitung volume dengan SF dan broken stowage, tetapkan palka, lalu periksa beban dek dan stabilitas. Modul STOWAGE.ID Vessel Stowage membantu perencana di darat menyusun dan membandingkan skenario seperti ini, termasuk halaman stowage general cargo. Alat ini adalah pendukung keputusan; loading computer kapal yang disetujui kelas dan buku stabilitas tetap menjadi acuan resmi, dan keputusan akhir ada pada nakhoda dan mualim I.