Kapal Ro-Ro (roll-on/roll-off) memuat kendaraan dan muatan beroda yang masuk dan keluar sendiri lewat ramp. Di Indonesia, bentuk yang paling dikenal adalah feri penyeberangan (Ro-Pax) yang membawa truk, bus, mobil, dan penumpang, di samping kapal Ro-Ro barang dan kapal pengangkut mobil (PCTC) untuk distribusi kendaraan baru. Panduan ini membahas dasar-dasar perencanaan muatan untuk semua jenis tersebut.
Kapasitas: lane meter, CEU, dan tinggi bebas
Kapasitas dek Ro-Ro diukur dalam lane meter (LM), yaitu jumlah panjang lajur kendaraan. Pada kapal pengangkut mobil, kapasitas sering ditulis dalam CEU (car equivalent unit) berdasarkan mobil referensi. Faktor ketiga adalah tinggi bebas (free height) setiap dek: truk dan bus membutuhkan dek utama yang tinggi, sedangkan mobil bisa memakai dek yang lebih rendah atau dek gantung (hoistable deck) yang dapat dinaikkan.
| Data dek (ilustrasi) | Dek utama | Dek atas / dek mobil |
|---|---|---|
| Jumlah lajur × panjang | 4 × 90 m (360 LM) | 6 × 80 m (480 LM) |
| Lebar lajur | ≈ 3,0 m | ≈ 2,2 m |
| Tinggi bebas | 4,8 m | 2,0 m |
| Beban sumbu maksimum | 12 t | 3 t |
Angka di tabel hanya contoh. Data nyata ada di rencana muat dan dokumen kapal; jenis kapal lain dapat dibandingkan dengan alat jenis kapal.
Contoh kapasitas dek utama: 14 truk sepanjang 12 m dengan jarak memanjang 0,5 m memakai 14 × 12,5 = 175 LM. Sisa 360 − 175 = 185 LM dapat diisi mobil 4,5 m dengan jarak 0,5 m, yaitu 185 ÷ 5,0 = 37 mobil bila satu mobil per lajur truk. Bila dek bisa dibagi menjadi lajur mobil yang lebih sempit, kapasitas mobil bertambah.
Beban sumbu, beban lajur, dan beban titik
Kekuatan dek kendaraan dinyatakan sebagai beban sumbu atau beban roda maksimum, ditambah beban merata per lajur atau per m². Ada tiga pemeriksaan:
- Beban sumbu: sumbu terberat setiap kendaraan dibandingkan dengan batas dek. Truk tiga sumbu 25 t dengan sumbu belakang 10 t aman pada dek 12 t, tetapi truk yang kelebihan muatan dengan sumbu 14 t tidak boleh berada di dek itu.
- Beban lajur: berat dibagi panjang yang ditempati. Truk 25 t sepanjang 12 m memberi sekitar 2,1 t per meter lajur, yang dibandingkan dengan batas lajur kapal.
- Beban titik: kaki penyangga (landing leg) trailer tanpa kepala, kuda-kuda (trestle), dan kendaraan rantai (track) memusatkan beban pada area kecil; gunakan pelat atau balok penyebar.
Di Indonesia, berat truk yang dideklarasikan sering tidak sama dengan berat sebenarnya. Penimbangan di pelabuhan dan pemahaman aturan ODOL membantu mencegah kelebihan beban. Pemeriksaan sumbu dapat dicoba dengan kalkulator beban sumbu, dan konsepnya dijelaskan di panduan beban sumbu dan JBB truk. Untuk beban merata, gunakan kalkulator beban dek.
Ramp dan pergerakan kendaraan
Ramp buritan, ramp samping (quarter ramp), dan ramp dalam memiliki SWL sendiri, dan sering hanya satu kendaraan berat yang boleh berada di ramp pada saat bersamaan. Sudut ramp berubah dengan pasang surut dan sarat kapal; kendaraan rendah atau panjang bisa tersangkut bila sudutnya terlalu curam. Di pelabuhan penyeberangan, ramp kapal bertumpu pada dermaga tetap atau jembatan bergerak (movable bridge) yang juga memiliki batas beban.
Pergerakan kendaraan diarahkan oleh petugas dek. Jarak antarkendaraan perlu cukup untuk awak memasang lashing, untuk pengemudi dan penumpang keluar dengan aman, dan untuk akses pemadaman kebakaran. Ukuran jarak minimum mengikuti Cargo Securing Manual, prosedur operator, dan ketentuan otoritas.
Urutan muat dan bongkar
Urutan muat menentukan seberapa cepat kapal bisa bongkar dan seberapa stabil kapal selama operasi:
- Pelabuhan bongkar: kendaraan untuk pelabuhan pertama ditempatkan dekat ramp atau di lajur drive-through, kendaraan pelabuhan berikutnya lebih ke dalam.
- Berat dan tinggi: truk dan kendaraan berat di dek utama yang rendah dan kuat; mobil di dek atas.
- Kemiringan selama muat: kendaraan berat dibagi kiri dan kanan secara bergantian. Banyak kapal Ro-Ro memakai tangki heeling untuk menjaga kapal tetap tegak selama kendaraan masuk.
- Arah keluar: pada kapal tanpa drive-through, kendaraan berat dimundurkan agar bisa keluar maju.
- Barang berbahaya ditempatkan di area yang ditetapkan, bukan di sembarang lajur kosong.
Setelah muat, periksa GM, trim, dan sarat dengan kalkulator GM dasar. Dek kendaraan yang luas dan terbuka sangat peka terhadap air di atas dek, misalnya air pemadam kebakaran, karena menimbulkan efek permukaan bebas yang besar. Lubang pembuangan (scupper) harus berfungsi.
Lashing kendaraan
Pengamanan kendaraan mengacu pada Cargo Securing Manual kapal, lampiran CSS Code tentang muatan beroda (Annex 4), dan pedoman IMO tentang titik pengikatan kendaraan di kapal Ro-Ro (Res. A.581(14)). Pedoman tersebut mengatur jarak titik lashing di dek dan titik pengikatan pada kendaraan. Praktik umumnya:
- Rem tangan aktif, mesin mati, dan kendaraan masuk gigi.
- Rantai atau sabuk lashing dari titik pengikatan kendaraan ke titik lashing di dek, dengan sudut yang memadai ke arah melintang dan memanjang.
- Trailer tanpa kepala didukung kuda-kuda atau trestle, bukan hanya kaki penyangganya.
- Ganjal roda untuk kendaraan berat dan pada cuaca buruk.
Kebutuhan dan kekuatan lashing dapat diperkirakan dengan kalkulator lashing; prinsip umumnya ada di panduan lashing dan securing muatan.
Barang berbahaya di dek Ro-Ro
Kendaraan atau trailer yang membawa barang berbahaya harus dideklarasikan sebelum muat. IMDG Code mengatur penempatan dan pemisahan di ruang Ro-Ro, sedangkan SOLAS bab II-2 mengatur perlindungan kebakaran, ventilasi, dan peralatan listrik di ruang tersebut. Konsep pentingnya: ruang Ro-Ro tertutup dan terbuka diperlakukan berbeda, beberapa kelas hanya boleh di dek terbuka, dan kendaraan dengan bahan bakar di tangkinya sudah menjadi pertimbangan kebakaran tersendiri. Kendaraan listrik juga menjadi perhatian baru karena kebakaran baterai sulit dipadamkan, dan pedomannya terus berkembang. Dasar klasifikasi ada di glosarium IMDG Code.
Kesalahan umum
- Menghitung kapasitas hanya dari lane meter, padahal tinggi bebas, lebar lajur, dan beban sumbu sering membatasi lebih dulu.
- Memakai berat deklarasi tanpa verifikasi, sehingga KG, sarat, dan beban dek di atas kertas lebih ringan dari kenyataan.
- Menaruh semua truk berat di satu sisi karena datang lebih awal, lalu mengandalkan tangki heeling untuk menegakkan kapal.
- Mengisi lajur kosong dengan kendaraan bermuatan barang berbahaya tanpa memeriksa apakah area itu memenuhi syarat.
- Menunda lashing sampai kapal berangkat, padahal olengan pertama di luar pelabuhan sering datang lebih cepat dari perkiraan.
Perencanaan dari darat
Perencana Ro-Ro di darat membutuhkan daftar kendaraan dengan berat aktual, pembagian lajur, dan pemeriksaan beban sumbu serta stabilitas sebelum kapal tiba. Modul STOWAGE.ID Vessel Stowage dan halaman stowage Ro-Ro membantu menyusun skenario lajur dan urutan muat di darat. Ini adalah alat pendukung keputusan; loading computer kapal yang disetujui kelas dan buku stabilitas tetap menjadi acuan resmi, dan nakhoda memiliki keputusan akhir. Untuk kendaraan berat di kapal pendarat, lihat juga panduan muatan kapal LCT.