Bay plan yang Anda baca di kantor pelayaran atau di anjungan adalah hasil akhir. Di baliknya ada proses perencanaan: memutuskan kontainer mana masuk slot mana, dengan banyak batasan sekaligus. Panduan ini membahas cara menyusun bay plan kapal kontainer dari sisi planner. Bila Anda belum terbiasa dengan koordinat bay-row-tier, baca dulu panduan cara membaca bay plan.
Data masukan sebelum mulai
Bay plan yang baik dimulai dari data yang lengkap. Kesalahan di tahap ini akan terbawa ke semua slot.
| Data | Isi utama | Sumber umum |
|---|---|---|
| Profil kapal | Jumlah bay, row, tier; batas berat dan tinggi per stack; posisi soket reefer; jenis tutup palka | Data kapal, Cargo Securing Manual |
| Rotasi pelabuhan | Urutan pelabuhan singgah dan perkiraan muat-bongkar tiap pelabuhan | Jadwal pelayaran |
| Muatan di kapal | Kontainer yang sudah dimuat di pelabuhan sebelumnya | Pesan BAPLIE |
| Daftar muat | Nomor kontainer, ukuran, tipe ISO, VGM, POD, status reefer, DG, OOG | Booking dan terminal |
| Rencana terminal | Jumlah quay crane, urutan kerja, posisi di lapangan penumpukan | Terminal |
Berat yang dipakai harus berupa VGM sesuai SOLAS VI/2, bukan berat perkiraan dari booking.
Tahap 1: pre-stow per pelabuhan bongkar
Pre-stow (sering disebut juga strategic stowage atau slot allocation) adalah pembagian ruang kapal menjadi blok-blok per pelabuhan bongkar sebelum nomor kontainer tertentu ditetapkan. Di banyak pelayaran tahap ini dikerjakan planner pusat, lalu terminal mengisi slot secara rinci.
Prinsip dasarnya sederhana:
- Pelabuhan terdekat di atas. Dalam satu stack, kontainer untuk pelabuhan yang lebih awal harus berada di atas kontainer untuk pelabuhan yang lebih jauh. Bila terbalik, terjadi overstow.
- Dek tidak boleh menghalangi palka. Kontainer dek berdiri di atas tutup palka. Bila palka berisi kontainer untuk pelabuhan B, semua kontainer dek di atas tutup itu harus sudah turun di B atau sebelumnya.
- Satu bay, sedikit POD. Blok POD yang rapi per bay memudahkan crane bekerja dan mengurangi risiko restow ketika ada muatan susulan.
- Sebar pekerjaan crane. Bila tiga crane akan bekerja di pelabuhan B, muatan B sebaiknya tersebar di beberapa bay yang berjauhan, bukan menumpuk di satu bay.
Akibat pelanggaran prinsip ini dibahas di panduan restow kontainer dan cara menguranginya.
Tahap 2: palka, dek, dan berat per stack
Setelah blok POD ditetapkan, planner menentukan apa yang masuk palka dan apa yang naik ke dek.
Berat per stack. Setiap stack punya batas berat total, berbeda untuk 20' dan 40', serta untuk palka dan dek. Di palka batasnya ditentukan kekuatan tank top dan cell guide. Di dek batasnya ditentukan tutup palka, fondasi, dan sistem lashing. Angka resmi ada di dokumen kapal; jangan memakai angka dari kapal lain.
Kontainer berat di bawah. Menaruh kontainer berat di tier bawah menurunkan titik berat kapal (KG) dan mengurangi gaya pada lashing di dek. Kontainer ringan dan kosong cocok di tier atas dek. Pengecualian mungkin berlaku pada sistem lashing tertentu, tetapi hanya bila hasil perhitungan lashing mengizinkan.
Campuran 20' dan 40'. Kontainer 20' umumnya tidak boleh di atas 40'. Kontainer 40' di atas dua 20' hanya pada posisi yang diizinkan kapal.
Tinggi stack. High cube menambah tinggi stack. Di palka, tinggi dibatasi ruang di bawah tutup palka. Di dek, tinggi dibatasi lashing bridge dan garis pandang dari anjungan menurut SOLAS V/22.
Tahap 3: muatan khusus
| Muatan | Aturan penempatan yang umum | Catatan planner |
|---|---|---|
| Reefer | Hanya di slot bersoket listrik; mudah dijangkau untuk pemantauan | Jumlah soket terbatas; cek suhu di kalkulator reefer |
| Barang berbahaya (DG) | Sesuai kategori stowage dan segregasi IMDG Code | Jauh dari akomodasi dan sumber panas bila disyaratkan |
| OOG (flat rack, open top) | Biasanya tier teratas; slot di samping bisa hilang | Over-height dan over-width dihitung sebagai slot hilang |
| 45 kaki | Hanya bay dan tier yang dirancang untuk 45', sering di dek | Overhang ke bay sebelahnya perlu dicek |
| Kosong | Tier atas dek, atau pengisi slot sisa | Ringan, membantu menurunkan KG |
Untuk barang berbahaya, rujuk IMDG Code edisi berlaku yang berlisensi; ringkasan konsepnya ada di dasar IMDG Code.
Tutup palka dan urutan kerja crane
Kapal kontainer bertutup palka (lift-away pontoon) memiliki satu atau beberapa pontoon per bay. Untuk membongkar atau memuat palka, semua kontainer dek di atas pontoon itu harus diturunkan, lalu pontoon diangkat crane. Setiap pembukaan menambah gerakan crane yang tidak menghasilkan muatan. Karena itu planner berusaha:
- membuka palka sesedikit mungkin per pelabuhan;
- memanfaatkan pembagian pontoon (misalnya pontoon kiri, tengah, kanan) agar hanya sebagian dek dikosongkan;
- menyusun urutan bongkar dan muat (sequence) sehingga crane tidak menunggu.
Contoh: menyusun bay 14 kapal feeder
Contoh ilustratif, bukan kapal nyata. Kapal feeder dengan bay 14 (40') berisi 4 row, 3 tier palka, dan 2 tier dek, satu tutup palka. Rotasi: Tanjung Priok (muat) → Surabaya → Makassar → Bitung. Berat dalam ton (VGM).
| Tier | Row 04 | Row 02 | Row 01 | Row 03 |
|---|---|---|---|---|
| 84 (dek) | Surabaya 8 t | Surabaya 10 t | Surabaya 9 t | Surabaya 7 t |
| 82 (dek) | Makassar 18 t | Makassar 22 t | Makassar 21 t | Makassar 16 t |
| Tutup palka | — | — | — | — |
| 06 (palka) | Makassar 14 t | Makassar 15 t | Makassar 16 t | Makassar 12 t |
| 04 (palka) | Bitung 24 t | Bitung 26 t | Bitung 25 t | Bitung 22 t |
| 02 (palka) | Bitung 28 t | Bitung 30 t | Bitung 29 t | Bitung 27 t |
Pemeriksaan planner:
- Overstow: di setiap stack pelabuhan lebih awal selalu di atas. Tidak ada overstow.
- Tutup palka: palka baru dibuka di Makassar; saat itu kontainer Surabaya sudah turun dan kontainer Makassar di dek ikut dibongkar. Tidak ada restow karena tutup palka.
- Berat stack: stack terberat di palka row 02 = 30 + 26 + 15 = 71 t; di dek row 02 = 22 + 10 = 32 t. Keduanya harus di bawah batas kapal untuk stack 40' (lihat dokumen kapal).
- Gradasi berat: di palka berat di bawah. Di dek, Makassar yang lebih berat di tier 82 dan Surabaya yang ringan di tier 84, sehingga urutan POD dan gradasi berat sejalan.
- Muatan susulan: bila di Surabaya ada muatan untuk Bitung, slot dek yang kosong hanya cocok bila kontainer itu tidak menghalangi pembukaan palka di Makassar. Ini alasan rencana multi-port penting.
Jumlah slot dan TEU per bay bisa Anda coba di kalkulator stowage kontainer, dan BAPLIE hasilnya dapat diperiksa dengan penampil BAPLIE.
Stabilitas dan kekuatan: pemeriksaan akhir
Bay plan yang rapi belum tentu aman. Setelah semua bay terisi, planner memeriksa GM, trim, sarat, gaya geser, dan momen lentur, lalu menyesuaikan ballast atau menukar blok kontainer antarbay. Dasarnya dibahas di dasar stabilitas kapal untuk planner.
Modul STOWAGE.ID Vessel Stowage membantu menyusun pre-stow, memeriksa batas stack, dan menghitung stabilitas dari darat untuk kapal kontainer. Alat ini adalah pendukung perencanaan dan keputusan; loading computer kapal yang disetujui klas dan buku stabilitas tetap menjadi acuan resmi, dan rencana akhir disetujui mualim I serta nakhoda.